Mobile GadgetReviewSmartphone

Review: SONY Xperia neo L

SONY nampaknya memiliki rencana pemasaran yang cukup agresif untuk membanjiri pasar dengan berbagai smartphone Xperia mereka. Setelah beberapa seri terbaru seperti miro, tipo, acro S, atau go diperkenalkan di Jakarta, salah satunya mampir ke redaksi YANGCANGGIH yakni Xperia neo L, tentunya untuk direview lebih mendalam. Dengan tampilan yang mirip Sony Ericsson XPERIA PLAY, apa saja fitur yang diunggulkan oleh neo L?

DESAIN

Saat mengeluarkan pertama kali dari kotaknya, saya seakan sedang memegang Xperia PLAY yang kebetulan dipakai oleh rekan sekantor, karena bentuk depannya benar-benar mirip dengan PLAY dalam kondisi tertutup. Ukurannya memang berbeda, dengan PLAY yang lebih tebal dengan ukuran 119x62x16 mm, dibandingkan neo L yang berukuran 121×61.1×12.2 mm. Bobot neo L juga lebih ringan, yakni 175 gram berbanding 131,5 gram. Singkatnya, neo L seperti “bagian depan Xperia PLAY tanpa tombol kendali untuk game.”


Abaikan label yang tertera, sekarang tebak mana Xperia PLAY dan mana Xperia neo L?

Di bagian depannya tersebut terdapat earpiece yang diapit oleh kamera depan di kiri dan sensor cahaya di kanan. Sementara itu 4 tombol fisik di bawah layar memiliki dimensi terlalu mungil untuk saya, yang menyebabkannya agak sulit diakses, terutama saat awal penggunaan. Mungkin SONY masih menganggap penyertaan tombol sensitif sentuh seperti yang banyak ditemukan pada ponsel Android lainnya, riskan mengalami “miskomunikasi” dengan maksud yang diinginkan penggunanya. Namun penggunaan tombol sekecil ini saya rasa juga bukan hal yang ideal.

Layar neo L yang berukuran 4 inci dengan resolusi 480×854 piksel tersebut menggunakan backlit LED. Cukup lega untuk melakukan berbagai aktivitas serius maupun santai. Sayangnya lapisan kacanya sangat mudah meninggalkan sidik jari. Di sisi kirinya terdapat port microUSB sementara di sisi kanannya dapat Anda temukan tombol daya dan volume. Lekukan unik pada bodi neo L menambah cantik desainnya terutama jika dilihat dari belakang, namun membuat tombol power dan volume tadi sedikit sulit diakses.

Penggunaan dua mikrofon untuk hasil suara stereo, masih dipertahankan oleh SONY. Pada neo L, satu mikrofon berada di sisi atas bersama jack audio 3.5mm, sementara yang lainnya berada di sisi bawah dekat dengan ceruk untuk membuka casing belakangnya. Sayang, slot microSD terletak di bawah slot kartu SIM sehingga Anda harus melepas baterai terlebih dahulu untuk mengaksesnya.

Secara keseluruhan, desain neo L yang memiliki 2 pilihan warna yakni hitam dan putih tersebut, tetap menarik dan elegan meski tidak terasa segar. Mungkin jika SONY menyediakan banyak pilihan warna seperti pink, ungu, merah marun dan sebagainya, akan membuat neo L semakin menarik untuk dilirik.

FITUR

Salah satu nilai plus neo L adalah pada OS yang digunakan, yakni ICS 4.0.3. Maklum, beberapa seri pendahulunya masih disuntikkan Gingerbread dengan opsi “upgradable” saja. Namun, personalisasi ala Timescape UI membuat “rasa” ICS di neo L terlihat sama saja dengan Gingerbread plus Timescape. Anda bisa menambah widget dan map di 5 halaman Home yang tersedia dengan pilihan yang cukup banyak. Widget Timescape UI terutama di sisi multimedia termasuk salah satu favorit saya karena tampilannya yang keren dan mudah digunakan.

Di lockscreen (layar penguncian), Anda tetap dapat mengakses kontrol pemutar lagu yakni Prev/Play/Next saat memutar musik. Absennya tombol shutter diantisipasi dengan opsi akses cepat ke kamera dari layar kunci, cukup dengan menggeser ikon kamera ke kanan.

Pada menu utama, fitur dan aplikasi khas Xperia yang sudah kita kenal juga dapat ditemukan di neo L. Sebut saja Timescape, yang menyatukan berbagai akun jejaring sosial sehingga mudah diakses maupun dipantau dari layar Home (Beranda) sekalipun; PlayNow (pasar aplikasi khusus SONY Mobile yang mirip Samsung Apps); TrackID untuk mengidentifikasi lagu dengan merekamnya, Berita & Cuaca, Update Center, Perangkat tersambung, Manajer LiveWare, Bantuan, Places, Navigation, Latitude, Wisepilot yang bisa diandalkan sebagai navigator pribadi; NeoReader untuk memindai barcode hingga Dapatkan Aplikasi & Permainan.

Selain itu, terdapat pula Play Books yang bisa Anda gunakan untuk berbelanja berbagai macam bacaan di Play Store; lalu Musik & Video serta Aplikasi & game yang akan “mengumpulkan” konten multimedia yang dibagikan atau disukai teman-teman Anda di Facebook atau YouTube; EA Games yang menyediakan game-game besutan EA, baik gratis maupun percobaan; Xperia Galeri yang berbeda dengan Galeri biasa, mengumpulkan gambar atau foto yang terdapat pada perangkat, kartu memori hingga jejaring sosial Anda dengan folder-folder terpisah.

Terkait dengan fitur Aplikasi & game di atas, jika Anda menyentuh-tahan salah satu ikon aplikasi di menu utama, maka di sisi atas layar akan ada opsi “Bagikan” ke Facebook lengkap dengan komentar yang bisa ditambahkan. Jika berhasil, akan ada informasi berupa pop up screen yang keluar selama beberapa detik. Ini merupakan cara cepat dan mudah untuk berbagi aplikasi dan game Android favorit Anda kepada kerabat, bukan?

Fitur editor foto bisa ditemukan dengan menekan tombol Opsi saat Anda melihat foto di Galeri. Ada pilihan cepat seperti putar ke kiri/kanan di jendela yang tampil. Jika butuh lebih dari itu, misalnya penguratan (crop), memilih berbagai macam efek, menghilangkan mata merah dan Face Glow, silakan sentuh opsi Edit. Anda bisa mengatur sendiri parameter sesuai dengan selera. Hasilnya akan masuk ke folder terpisah, yakni Hasil Edit.

Satu hal menarik lainnya ada pada fitur keamanan perangkat. Seperti kita ketahui, mulai dari versi Ice Cream Sandwich, Google menyediakan fitur Face Unlock yang akan membaca wajah pemilik untuk dapat membuka kunci pada layar. Lucunya, pada saat awal pengesetan, perangkat mengingatkan bahwa “Face unlock kurang aman jika dibandingkan dengan pola, PIN, atau sandi. Seseorang yang terlihat mirip dengan Anda dapat membuka gembok ponsel Anda.” Pertanyaannya, jika ternyata kurang aman dibandingkan cara-cara sebelumnya, lalu buat apa fitur ini dibuat?

Namun tanpa berlama-lama berkutat dengan pertanyaan tersebut, saya pun langsung mencobanya. Saya diminta untuk memegang ponsel sejajar dengan mata, dan mencari tempat yang tidak terlalu gelap maupun terang. Prosesnya tidak lama sampai kamera depan dapat dengan sempurna menangkap wajah Anda. Sementara pertanyaan saya di atas sedikit terjawab dengan permintaan keamanan berlapis berikutnya, yakni gambar pola dengan minimal 4 titik terhubung, lalu pertanyaan jika saya juga lupa polanya. Wuih!

Setelah itu, saya mencoba membuka kunci layar tersebut dengan beberapa ekspresi. Jika terlalu berbeda, maka wajah tidak akan dikenali dan langsung beralih ke modus gambar pola. Jadi kalau wajah Anda sedang lebam karena habis dipukuli atau kecelakaan, ponsel masih dapat diakses.

PERFORMA

Xperia neo L mengandalkan chipset Qualcomm MSM8255 Snapdragon dengan CPU 1GHz Scorpion. Hasil benchmark bebeapa aplikasi penguji menunjukkan hasil yang cukup lumayan. Meski Quadrant mencatat total poin 1190 yang menempatkan neo L di posisi kesembilan alias terbawah, AnTuTu dengan skor 2985 masih menempatkan neo L di posisi ketujuh dari 9 perangkat, di atas Samsung GALAXY S dan di bawah Google Nexus S.

Performa neo L dalam membuka berbagai konten web patut diacungi jempol, karena mampu bertengger di posisi kedelapan dari 20 lebih perangkat dengan skor 934. Jaringan HSDPA 7.2Mbps yang didukungnya juga responsif ketika digunakan bersama kartu indosat. GPU Adreno 205 yang berfungsi meningkatkan kinerja grafis neo L ditunjang dengan kemampuan merespons 4 sentuhan secara bersamaan, seperti yang dibaca oleh aplikasi Multitouch Benchmark.

Sementara untuk kualitas pemutar media, hampir tidak ada perubahan signifikan dari seri sebelumnya. Antarmuka yang mudah digunakan, pengaturan yang cukup lengkap serta kualitas yang dapat diandalkan menjadi nilai lebih dari smartphone keluaran Sony Ericsson sejak dulu hingga kini bernama SONY mobile.

Di sisi kamera, sudah tersedia resolusi hingga 5MP untuk foto dan HD 720p untuk video. Penggunaan di dalam ruang maupun luar ruang tidak ditemukan masalah, baik siang atau berlimpah cahaya, maupun malam atau remang-remang. Meski memiliki modus malam, sebaiknya hindari karena hasilnya malah akan pecah. Manfaatkan saja lampu kilat dengan jarak tidak terlampau dekat atau gunakan mode otomatis/normal seperti yang saya terapkan pada foto-foto di bawah. Sayangnya, kamera depan yang hanya mampu mengambil foto VGA, terlihat seperti ponsel lokal dari segi hasil. Pecah dan tidak tajam.

Foto

Dalam ruang
SONY Xperia neo L indoor2.jpg SONY Xperia neo L indoor1 SONY Xperia neo L indoor3 SONY Xperia neo L indoor4.jpg

Luar ruang*
SONY Xperia neo L outdoor1 SONY Xperia neo L outdoor2
*) bagian pojok kanan bawah sedikit terhalang case DiCAPac karena posisi ponsel tergeser

Luar ruang malam
SONY Xperia neo L outdoor3 SONY Xperia neo L outdoor4 SONY Xperia neo L tanpa flash SONY Xperia neo L malam

Kamera depan
SONY Xperia neo L kamera depan1 SONY Xperia neo L kamera depan

Panorama
SONY Xperia neo L pano1 SONY Xperia neo L pano2

Video

Menggunakan case tambahan DiCAPac WP-C1

Daya tahan baterainya tergolong standar, setidaknya itu yang saya rasakan selama beberapa hari pengujian. Tidak terlalu boros namun juga tidak bisa dikatakan awet. Untunglah SONY tak lagi “membenamkan” baterai tersebut ke dalam bodi ponsel sehingga Anda bisa dengan mudah menggantinya dengan baterai cadangan ketika dibutuhkan.

KESIMPULAN

SONY Xperia neo L nampaknya hadir sebagai pelengkap dari seri-seri unggulan SONY karena hampir tidak ada fitur yang benar-benar mencolok atau berbeda dari seri lainnya. Mungkin neo L akan “serasi” jika digunakan oleh wanita yang pasangan pria-nya menggunakan PLAY, mengingat di luar sana banyak pasangan yang menggunakan berbagai macam aksesoris serba mirip satu sama lainnya.

Pros:
(+) Performa oke
(+) Harga menengah
(+) Hasil kamera & video bagus
(+) Face unlock berfungsi dengan baik

Cons:
(-) Desain tidak benar-benar baru
(-) Hasil kamera depan kurang
(-) Slot microSD tidak bersifat hot swap
(-) Tombol fisik di bawah layar terlalu mungil

Rival:
> Samsung GALAXY W
> Zyrex OneScribe ZA987
> LG Optimus L3

Mungkin neo L akan “serasi” jika digunakan oleh wanita yang pasangan pria-nya menggunakan PLAY, mengingat di luar sana banyak pasangan yang menggunakan berbagai macam aksesoris serba mirip satu sama lainnya.

Komentar

19 Comments

  1. Ulasan yg menarik mas 🙂

    Mau nambahin nih. Sdh +- 5 bln sya pkai hp ini. Awalnya, performa ckup memuaskan, hanya minus di memori internal yg minim & kamera yg tdk support fitur zoom. Semakin lama, performanya smkn menurun. sring trjadi nge-lag pda saat membuka sms & mengetik sms. hp sya tdk diroot.

    Smg bermanfaat 🙂

  2. mas Bray,kok hasil dari kamera depanku terbalik ya.misal gambar kepala di kanan,setelah dijeepretin kepalanya jadi di kiri.
    mohon bantuannya mas bray….
    thx

  3. Bro mau tanya, kalo cara menghapus atau mengeset ulang tampilan widget yang sudah terlanjur ditambahkan seperti “analog clock” mau diganti dengan widget atau fitur tambahan aplikasi yang lain untuk ada di home, gimana caranya ya? mohon infonya nih.. thanks before..

    1. seharusnya sih semudah sentuh-tahan widget yang dimaksud, lalu geser ke ikon kotak sampah di bawah.

  4. mas brow…. kok saat ingim memotret gambar.. gk bisa di zoom yaw?
    ada yg tau kah

  5. maksih juga review ny jadi tambah tahu tapi jd bingung juga ini, sebelumny minat ke galaxy w, tp neo L muncul, baikny yg mn ya? mhon masukannya…
    Trims, trims…^ _^

  6. haduh jadi makin binggung nentuin mau beli hh apa, eniwei terima kasih gan Rtk Lee buat review nya, sangat membantu utk pertimbangan buat beli hh baru 🙂

  7. jadi dah keluar ya gan di indonesia, berapa harganya? trus apa internal memory masih 300 mb dan minus bravia engine & radio?

    1. kok lampu flash ku kalau dipake terang gelap ya? kaya berkedip.. emang modelnya gitu atau punya saya yang rusak ya? thx..

      1. dipakai untuk apa dulu nih? merekam video, kah? atau memotret?

        kalau memotret memang biasanya ada 2 tipe cahaya, pertama level cahaya sedang untuk mengukur jarak obyek dan menentukan fokus, kedua level cahaya full saat foto diambil.

        kalau selain itu, mungkin memang ada kerusakan. coba share dulu lebih jelasnya di sini. 🙂

Close
%d bloggers like this: