Review: Sony Handycam HDR-TD20VE

Saat kami masih menikmati bekerja saat liputan dan membuat banyak video hands-on dengan Sony Handycam HDR-TD10, tiba-tiba kami kedatangan Sony Handycam HDR-TD20VE. Camcorder 3D terbaru dari Sony ini menghadirkan sederetan perbaikan dan fitur baru. Bahkan desain dan warnanya pun juga berbeda dari pendahulunya.

DESAIN
Kebanyakan orang menganggap TD10 memiliki bentuk yang terlalu besar, dan kami memang setuju dengan anggapan tersebut. HDR-TD20VE hadir dengan bodi yang lebih mungil (tepatnya sekitar 34% lebih kecil) sehingga akan lebih menarik bagi para konsumen. Selain lebih mudah disimpan, TD20 terasa lebih “bersahabat” saat digunakan, terutama bagi pengguna yang tangannya tidak begitu besar.

Mari kita mulai telusuri apa saja yang terdapat di TD20. Dimulai dari sisi atas, terdapat keterangan 5.1ch Surround Mic yang dimiliki, keterangan GPS untuk menandai lokasi foto maupun video yang Anda ambil, serta sebuah hot shoe untuk berbagai perangkat tambahan. Sayangnya hot shoe ini bersifat eksklusif hanya untuk aksesoris Sony saja. Kemudian kita dapat menemukan pengatur pembesaran (zoom wide/tele), shutter atau tombol rana dan tombol mode untuk mengganti fungsi yang digunakan, apakah merekam video atau mengambil foto.

Layaknya mata manusia, di bagian depan terdapat 2 buah lensa lebar jenis Sony G Lens 1.8/3.2-32mm, ditemani 2 buah lampu kilat tepat di atasnya yang siap menerangi obyek baik kala mengambil foto maupun video. Di bawah lensa terletak mikrofon Surround berlisensi Dolby yang akan merekam suara dengan efek layaknya di bioskop – tentu jika perangkat pemutarnya mendukung. Ada juga sensor infra merah untuk pengoperasian TD20 dengan remote control, serta Manual Button dan Manual Dial untuk mengatur sendiri tingkat imaji 3D yang Anda ciptakan.

Beralih ke bagian belakang, Sony menyederhanakan sejumlah tombol dan kontrol agar tak “menumpuk” di sini. Seperti tombol Mode yang dipindahkan ke sisi atas, karena pada TD10 terdapat di bagian belakang. Kini bagian belakang menjadi jauh lebih sederhana dan tidak membingungkan pengguna. Selain indikator mode (video/foto/pengisian baterai), terdapat tombol switch 3D-2D, slot untuk baterai dan tombol rekam. Hanya itu.

Saat tertutup, di sisi kirinya Anda akan menemukan logo Sony, 3D dan speaker stereo. Jika dibuka, Anda bisa melihat logo S-Master (amplifier pada speaker internal TD20) dan Dolby Digital 5.1 Creator. Lengkungan setengah lingkaran yang terdapat pada TD10 juga masih dipertahankan. Namun untuk penempatan beberapa tombol yang sebelumnya berbaris, kini telah dikelompokkan menjadi satu seperti pada tombol Power, Playback, Light (yang absen pada TD10) dan 2D/3D Display. Tombol lampu merupakan peningkatan yang diberikan Sony karena Anda kini dapat menggunakan lampu ditengah-tengah perekaman video, lalu mematikannya kembali dengan mudah.

Masih di sisi kiri bagian dalam, Anda juga bisa menemukan slot Sony Memory Stick yang dapat dimasuki SD Card, jack mikrofon dan headphone, port HDMI berdampingan dengan port USB, yang semuanya dilindungi oleh penutup. Tak lupa, layar sentuh 3.5 inci (ukuran yang sama dengan TD10) beresolusi 1.229.000 dot yang bisa Anda gunakan untuk menyaksikan imaji 3D tanpa perlu kacamata khusus.

Pada sisi kanan, Anda bisa menemukan konektor daya (DC IN) dan A/V R berpenutup & tali tempat Anda menyelipkan tangan agar nyaman digunakan dan mampu menjaga kestabilan saat perekaman handheld. Menariknya, Sony “menyelipkan” kabel USB terintegrasi di sisi ini sehingga Anda tak memerlukan kabel USB tambahan jika ingin menghubungkannya ke PC. Karena tersamarkan, kami bahkan baru menyadari keberadaan kabel ini saat tulisan ini dibuat. Di sisi bawah standar saja, ada mount tripod dan kait pelepas baterai.

FITUR
Kunci dari kemampuan merekam video 3D pada TD20 terletak pada dua buah 2 lensa Sony G dengan zoom optik 10x. Sensornya juga dua unit, masing-masing berukuran 1/3.9 inci berjenis Exmor R CMOS beresolusi 5.4MP yang mampu merekam video Full HD AVCHD 2.0 dengan bitrate 28Mbps. Pada mode perekaman 3D, TD20 menggunakan format MVC dan Anda dapat melakukan zoom hingga 12x, atau 17x pada mode 2D. Kebanyakan sisi spesifikasinya masih sama dengan pendahulunya. Semua hasil rekaman dan pemotretan bisa Anda simpan di memori internal 64GB yang dimilikinya.

Secara umum, TD20 memiliki opsi kompresi dan pengaturan perekaman yang mirip dengan TD10, termasuk mode rekam 1080/60p pada video dengan bitrate 28Mbps, Double Full HD 3D dengan bitrate 28Mbps, 2 mode rekam Full HD 60i atau 24p (FX dan FH), resolusi 1440×1080 yang merekam 60i pada opsi HQ dan LP, serta tentu saja mode Standard Definition. Kapasitas 64GB pada memori internal TD10 maupun TD20 tidak membuat kami merasa kurang karena itu memang terbilang cukup besar dan kami selalu berusaha berdisiplin memindahkan hasil perekaman video ke PC.

Bagi Anda yang tak ingin ribet dengan segala pengaturan manual, Sony telah menyertakan fungsi Intelligent Auto yang secara otomatis mengenali obyek & situasi perekaman untuk kemudian menyesuaikannya dengan berbagai mode yang dimiliki; misalnya fungsi Tracking, Face Detection atau pengenalan wajah, dan berbagai pengaturan dasar lainnya. Harus diingat bahwa saat Anda merekam video 3D, beberapa fungsi seperti Scene Mode dan Face Detection justru hilang.

Apakah Anda ingat fitur perekaman infra-merah NightShot yang selalu ada di kebanyakan Sony Handycam beberapa tahun lalu? Fitur yang sangat populer itu memang tak akan lagi Anda temukan di Handycam terbaru Sony. Walaupun demikian, TD20 memiliki kemampuan merekam di kegelapan dengan modus Low Lux yang secara otomatis akan meningkatkan Brightness atau kecerahan hasil video. Ini berkat perpaduan Exmor R CMOS Sensor dengan prosesor BIONZ. Sayangnya, hasilnya video Anda akan terlihat kasar karena kemunculan noise. Mungkin alasan ini yang membuat opsi ini absen saat Anda merekam video 3D.

Berbagai pengaturan pencahayaan bisa Anda lakukan secara manual, seperti Aperture, Shutter Speed, AE Shift, Backlight Compensation, Noise Reduction, Face Detection, dan kompensasi pencahayaan. Pada kenyataannya, fungsi iA pada TD20 bekerja dengan sangat baik sehingga Anda tidak perlu repot melakukan pengaturan manual demi mendapat hasil perekaman layaknya seorang profesional.

Jika Anda ingin merekam video slow motion, TD20 memiliki fitur Smooth Slow Record yang akan merekam klip berdurasi pendek dengan frame rate tinggi sehingga ketika diputar akan menghasilkan video gerak lambat yang halus.

PERFORMA
Mengingat masih terbatasnya perangkat penayang imaji maupun video 3D yang tersedia di Indonesia, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pada modus 3D justru beberapa fungsi menjadi hilang, maka kami memfokuskan pengujian pada hasil rekaman 2D di berbagai kondisi terutama dalam berbagai tingkat pencahayaan, penggunaan zoom dan kinerja peredam getar yang dimiliki perekam video berbanderol 18 juta-an rupiah ini.

Pengujian pada video berikut kami lakukan saat sore hari menjelang Maghrib (17:30) hingga sekitar pukul 18:45. Rentang waktu yang kami rasa cukup untuk menggambarkan hasil rekaman dengan kondisi yang kami rencanakan.

Pada beberapa scene awal mulai dari obyek berlari keluar dari terowongan hingga menyeberang jalan, kondisi langit yang sebenarnya sudah mulai gelap. TD20 menerjemahkannya dengan baik seolah-olah langit masih terang seperti pada pukul 3 atau 4 sore. Scene ketiga yakni adegan lari yang pertama, kami melakukan zoom in pendek dan mengambil gambar dengan berjalan mundur sehingga tangan sedikit bergetar. Pada scene keempat yakni adegan lari berikutnya, kami menggunakan zoom in maksimum diikuti dengan setengah berlari mundur sehingga getaran yang ditimbulkan jauh lebih keras.

Silakan Anda cermati. Hasil rekaman yang diperoleh pada kondisi bergetar masih bisa tampil dengan baik. Ini berkat Optical SteadyShot Active Mode yang melakukan koreksi sangat baik terhadap berbagai bentuk getaran. Selain itu, perpaduan zoom maksimum dengan kondisi senja di bawah pepohonan tidak membuat hasil rekaman video menjadi terlalu kasar.

Scene berikutnya adalah mengikuti obyek yang berlari. Kami melakukannya dengan berlari tanpa melakukan pembesaran. Hasilnya bisa ditolerir alias masih nyaman disaksikan. Setelah itu kami tetap melanjutkan pengujian hingga hari benar-benar gelap dengan tetap melakukan variasi zoom. Kesimpulan yang diperoleh adalah: Anda tetap dapat merekam video secara optimal dalam kondisi remang dan bergoyang sekalipun. Catatan: Dalam kondisi remang & banyak pergerakan objek atau fisik sang perekam, sebaiknya hindari zooming secara bersamaan karena hasil perekamannya tak akan maksimal.

Sony menggunakan baterai jenis InfoLITHIUM with AccuPower Meter System NP-FV70 dengan daya tahan baterai yang tergolong awet. Kami tidak pernah kehabisan baterai saat menggunakannya untuk liputan seharian. Pernah selama 2 hari kami tak sempat mengisi baterai, dan kami masih bisa merekam banyak kegiatan. Tentu saja definisi “2 hari” di sini bukan 2×24 jam. Sebagai catatan, kami lebih banyak memfungsikan TD20 di modus 2D dan setting iA alias otomatis.

Bagi yang ingin memamerkan hasil karya Anda ke YouTube, ada kabar baik. YouTube akan langsung mengenali bahwa video tersebut berformat 3D dan langsung menampilkannya dalam format tersebut atau sesuai dengan opsi yang kita pilih. Tentunya Anda membutuhkan TV atau monitor 3D dengan teknologi active shutter untuk menikmatinya.

Sebagai catatan, video maupun foto yang Anda rekam dalam format 3D bisa langsung bisa dilihat pada TD20. Caranya hanya dengan memindahkan tombol pengatur ke modus 3D. Jika tidak, maka video maupun foto tersebut akan ditampilkan dalam format 2D biasa.

KESIMPULAN
Sony Handycam HDR-TD20VE merupakan camcorder dengan arga cukup premium untuk kelas amatir. Fungsi 3D yang menjadi unggulan di seri ini hanya akan berfungsi optimal jika Anda memiliki televisi 3D di rumah yang harganya juga tak murah. Saat ini, software penyunting video 3D untuk kebutuhan skala rumahan belum banyak tersedia, yang hanya akan membatasi opsi editing tingkat lanjut Anda.

Diluar itu semua, TD20 menjanjikan performa yang sangat baik sebagai sebuah camcorder. Keunggulan yang kami catat antara lain adalah kemampuan mereduksi getaran dengan baik, kemampuan perekaman di keremangan dengan maupun tanpa lampu, hasil suara Surround maupun stereo berlisensi Dolby, baterai yang cukup awet, layar sentuh lebar dengan menu yang mudah digunakan, resolusi foto sangat besar hingga 20.4 MP, serta kemampuan menangkap detil dengan baik lewat modus Macro.

Spesifikasi Sony Handycam HDR-TD20V
Harga: kurang-lebih sekitar Rp 18.000.000,-an
Dimensi: 63.5 x 71.5 x 141.5 mm
Bobot (tanpa baterai): 460 gram
LCD: touchscreen 3.5 inci, resolusi 1.2 dot
Peredam getar: Optical Image Stabilization
Audio Format: Dolby Digital 5.1ch/2ch Creator
Memori: internal 64 GB, slot Memory Card tipe SD/SDHC/SDXC/Memory Stick PRO Duo
Software: PlayMemories Home Lite, built-in pada camcorder
Zoom: 10x (3D-Optical), 12x (2D-Optical), 17x (Advanced), 160x (Digital)
Scene Mode: Auto, Twilight, Twilight Portrait, Sunrise & Sunset, Fireworks, Landscape, Portrait, Spotlight, Beach, Snow (dalam modus 2D)
Port: MiniUSB, HDMI, headphone & external microphone jack
Hotshoe: Ya, aksesoris khusus Sony
Remote Control: Ya
GPS: Ya
Baterai: InfoLITHIUM with AccuPower Meter System NP-FV70

About The Author

Memiliki pengalaman melaporkan dan mengulas produk telekomunikasi sejak 2009, pria bernama lengkap Rateka Winner Lee ini juga menggemari dunia videografi berkat latar pendidikannya di FFTV IKJ.