Sebelumnya AHA telah meluncurkan AHA CoolPad di ajang Indocomtech akhir tahun 2011 lalu. Hadir dalam dua pilihan warna putih dan hitam yang cukup elegan, AHA CoolPad dibanderol dengan harga cukup menggiurkan, yakni sekitar Rp 2,5 jutaan. Bahkan AHA mengadakan promosi khusus di Mega Bazaar Computer 2012 lalu. Hanya dengan merogoh kocek Rp 1,9 jutaan, Anda pun sudah bisa membawanya pulang. Lantas bagaimana dengan performanya?

[tab: Desain]

Harus kami akui bahwa desain yang dimiliki CoolPad M31 cukup menarik perhatian, terutama pada sisi bagian belakangnya di mana lekukan-lekukan di beberapa seperti pada penampang kamera, jack 3.5mm, slot microSD dan speakernya terlihat menonjol. Logo “AHA” di bagian belakangnya pun tidak membuat Coolpad terlihat norak – malah sebaliknya mampu menghilangkan kesan “sepi” ketimbang dibiarkan polos.

Sayangnya, casing belakang yang terbuat dari plastik ini sangat rentan kotor dan lecet. Dan ada 2 “apalagi” yang saya catat di sini: 1. Apalagi casing belakang ini tidak dapat dilepas dan dipasang sendiri alias sudah menyatu dengan bodi; 2. Apalagi AHA tidak menyertakan case dalam paket pembeliannya. Sementara itu di sisi depannya nampak sederhana saja dengan simbol rumah, garis tiga dan garis panan ke kiri yang melambangkan 3 tombol sensitif sentuh di sisi kanan layar. Selebihnya nampak polos saja.

Membawa ukuran layar 7 inci berorientasi lanskap membuat CoolPad nyaman digunakan dengan 2 tangan dan 2 ibu jari. Tombol daya ada di sisi kiri ditemani dengan tombol volume, sementara di sisi kanan terdapat jack 3.5mm dan slot microSD.

Mengingat Anda tidak bisa melepas-pasang casing belakang dan baterainya seperti ZTE Light Tab V9+, maka untuk memasukkan kartu UIM AHA dapat dilakukan lewat slot di sisi bawah tablet yang bersebelahan dengan port charging. Mikrofon juga berada di sisi ini dengan letak agak berjauhan di sebelah kiri bawah.

Sedikit catatan untuk port pengisian daya di atas, ketika Anda mendekatkan kepala charger ke port ini, maka charger akan otomatis tertarik menempel ke port. Di satu sisi, pemasangan kepala charger menjadi mudah. Namun di sisi lain, karena hanya mengandalkan “lekatan magnetis” tersebut, keduanya juga menjadi mudah terlepas. Mekanisme ini mengingatkan pada Apple MacBook yang telah terlebih dahulu menggunakan mekanisme serupa. Tujuannya agar saat kabel tertarik dengan paksa, kabel akan terlepas sehingga perangkat yang terhubung tidak ikut terseret atau jatuh.

easy plug, easy unplug

[tab: Performa]

Sama seperti produk terdahulunya, AHA CoolPad masih membawa OS Android Froyo versi 2.2.2. Kabarnya, perangkat ini bisa di-upgrade ke Gingerbread tapi belum ada tanggal pasti. Terdapat 5 halaman di layar Beranda, Anda tak akan menemukan banyak kostumisasi bawaan CooPad di sektor User Interface baik di home screen-nya tersebut maupun di menu utama. Namun untuk sekedar memasang Live Wallpaper, CoolPad sudah mampu kok!

Oke, mari kita melakukan benchmarking. Meski AHA sudah menyebutkan dalam spesifikasi di situsnya, namun kami tetap mencoba untuk melihat berapa banyak multitouch yang dapat direspons oleh CoolPad. Hasil secara detilnya bisa Anda lihat pada foto di bawah berikut.

Tes kinerja dilakukan menggunakan Quadrant. Hasilnya, Coolpad mendapat total poin 583 dengan rincian; CPU mendapat skor 672, Memori 798, I/O 447, 2D 280 dan 3D 720. Menariknya, Coolpad mendapatkan “lawan” perbandingan dari tablet dan smartphone keluaran Samsung saja di atasnya.

Sekarang mari kita cari tahu performa sesungguhnya dengan menggunakannya secara langsung. CoolPad sudah dibekali prosesor keluaran Qualcomm yakni Snapdragon MSM7627-0-T dengan clock speed 800MHz, yang berarti setara atau bahkan sedikit lebih rendah dari clock speed yang digunakan beberapa smartphone. Efeknya adalah, saya merasakan adanya “hambatan” setiap kali menggulir layar atau masuk ke suatu menu. Istilah kerennya, kurang “smooth,” gitu. Namun sebenarnya hal ini tidak terlalu mengganggu sih, karena saya juga acap kali menemukannya di tablet sekelas Samsung GALAXY Tab 8.9 sekalipun. Hanya sayang, jika kita memerintah terlalu banyak, aplikasi yang sedang kita buka malah menjadi error, alias kinerja sistemnya tidak terlalu stabil.

Satu kelebihan yang saya catat adalah, Anda dapat menemukan buku manual versi digital yang bisa langsung dibaca di tablet. Selain menghemat penggunaan kertas, ini bisa menjadi jurus ampuh bagi kebanyakan konsumen yang kerap malas untuk membaca buku manual versi hard copy. Dan tentu saja, buku manual tersebut sudah dalam bahasa Indonesia.

Membuka internet berkonten flash, mengunduh dan menginstal aplikasi dari Android Market (yang sekarang sudah menjadi Google Play), menonton video di YouTube tanpa buffering dengan jaringan EVDO Rev.A atau sekedar membaca email masuk dapat dilakukan dengan lancar. Selain itu seperti biasa, AHA sudah menyisipkan berbagai konten-konten lokal AHA seperti Stars, myTV, Office in The Box, Games, Shop, Vibe dan Mail. Namun sekedar catatan, perangkat ini belum mendukung flash player sehingga Anda tidak dapat menonton TV dari situs seperti MivoTV, misalnya. Toh, sudah ada AHA myTV kan?

[tab: Multimedia]

Masuk ke sektor multimedia, saya akan membahas 3 hal utama yakni pemutar audio, video, serta performa kamera. Untuk pemutar audionya, meski sudah mampu menampilkan album art, namun secara keseluruhan tampilannya masih sederhana. Khas Froyo, lah. Tanpa ada pengaturan lanjut macam ekualiser. Jika ingin menyegarkannya, coba saja instal berbagai macam player yang bertebaran di Market, eh, Google Play. Sedangkan keluaran suara dari speaker eksternalnya, meski terbilang standar, namun saya tidak menemukan terjadinya distorsi berlebihan atau “pecah” ketika volume diset ke maksimum sekalipun.

Sebelas-dua belas dengan pemutar audio, pun begitu dengan pemutar videonya. Tampil sederhana dengan miskin pengaturan tambahan. Berhubung layar CoolPad hanya WVGA, sebaiknya video yang diputar di bawah HD agar lebih stabil dan nyaman ketika menonton.

Nah, mari kita masuk ke sektor pengabadi gambar. Kamera yang disematkan pada CoolPad sudah beresolusi 5MP. Ketika digunakan, nampak hasilnya kurang memuaskan terutama di kondisi remang dalam ruang atau senja di luar ruang. Gambar nampak kasar atau pecah. Namun hal tersebut tumbang ketika file gambar ditransfer ke komputer.

Contohnya pada gambar pertama di halaman Galeri. Nuansa senja yang terlihat di jendela kantor kami ternyata mampu ditangkap dengan baik. Selain autofocus-nya yang tanggap, CoolPad juga berhasil menangkap warna yang alami meski saya menggunakan AWB (auto white balance). Lalu meski tidak dibekali lampu kilat, CoolPad juga masih mampu menerjemahkan gambar dengan cukup baik meski di keremangan indoor. Selain itu, kami juga menyertakan foto perbandingan hasil dari kedua kamera, baik depan maupun belakang, foto maupun video.

[tab: Galeri]

Foto
Klik untuk melihat gambar dalam ukuran penuh.

Outdoor
AHA CoolPad - outdoor

Indoor
AHA CoolPad - indoor

Perbandingan hasil kamera depan & belakang
AHA CoolPad - outdoor senja kamera depan

Depan
vs
Belakang

AHA CoolPad - outdoor senja kamera belakang

Video

Kamera belakang (WVGA)

Kamera depan (VGA)

[tab: Kesimpulan & Spesifikasi]

Dengan segala fitur dan performanya, AHA CoolPad cukup layak dipertimbangkan untuk mendampingi Anda. Meski memiliki berbagai kekurangan terutama di sektor kestabilan kinerja, namun beberapa sektor CoolPad terasa mampu tampil dengan cukup baik. Harga yang terjangkau ditunjang koneksi Internet cepat juga memberikan CoolPad keunggulan tersendiri.

Pros:
(+) Desain menarik
(+) Speaker eksternal oke
(+) Internet cepat via EVDO Rev.A
(+) Aplikasi AHA eksklusif

Cons:
(-) OS masih Froyo
(-) Kinerja kurang stabil
(-) Casing ringkih dan mudah kotor

Spesifikasi