Review: Samsung SCH-W139

Samsung kembali menghadirkan produk yang cukup menarik. Jika kebanyakan ponsel dual-on yang mampu menampung dua SIM card masih mendukung GSM-GSM, Samsung W139 mengusung teknologi Dual ON GSM-CDMA yang selama ini mungkin hanya terpenuhi lewat merek-merek lokal. Bandrol harga yang cukup murah juga menjadi daya tarik bagi para calon konsumen. Tapi bagaimana dengan performanya?

[tab: Desain]

Lagi-lagi Samsung berhasil menciptakan sebuah ponsel low-end dengan desain middle-end. Dibalut warna perak di bagian bingkai layar dan papan tombol numerik, serta warna putih susu di bagian belakang (casing penutup baterai), W139 mampu menghadirkan citra elegan meski tak nampak lensa kamera yang menemani. Tak menjual ketipisan, nyatanya ponsel ini justru terasa pas di genggaman, terutama bagi mereka pengguna berumur 40 tahun ke atas yang malah merasa kerepotan dalam menggunakan perangkat tipis.

Slot microSD

Semua slot yang terdapat pada W139 dilindungi penutup plastik yang lazim ditemukan pada ponsel kelas pemula. Tergantung pemakaian, penutup ini biasanya mampu bertahan selama beberapa tahun. Di sisi kiri, terdapat slot microSD sedangkan di sisi kanan, terdapat port pengisian baterai sekaligus handsfree. “Sekaligus” di sini bukan berarti di balik penutup port tersebut, Anda bisa menemukan 2 lubang konektor. Samsung memutuskan untuk tidak menyertakan jack audio 3.5mm standar, sehingga Anda hanya dapat menggunakan handsfree yang disertakan dalam paket pembelian. Namun karena Bluetooth pada W139 tidak memiliki fungsi A2DP, Anda tidak dapat mentransfer suara ke headset Bluetooth jika merasa keluaran suara dari headsetnya kurang.

Port Charger dan/atau Handsfree

Keypadnya sendiri tergolong empuk dan nyaman, serta mampu memberikan respons baca perintah maupun efek membal (feedback) yang cukup baik. Tak cepat membuat ujung jemari terasa sakit walau sering digunakan untuk mengetik SMS, serta memiliki ukurang bidang yang sesuai untuk jemari pria dewasa. Tombol D-Pad 4 arahnya mampu difungsikan sebagai pemintas (shortcut), dengan fungsi OK di bagian tengah yang diterapkan oleh hampir semua ponsel saat ini. Oh ya, mikrofon terletak di sisi bawah agak ke kiri yang nampaknya menyesuaikan kebiasaan memegang dengan tangan kanan kebanyakan orang Indonesia, meski tak ada perbedaan penangkapan suara ketika Anda berpindah ke tangan kiri.

Slot kartu RUIM/SIM

Nah, bicara soal casing belakang, selain terhampar dot-dot penangkal licin, kelir putih seperti yang saya singgung di atas tadi ternyata membawa efek negatif: permukaannya jadi mudah kotor, meski tak sulit pula membersihkannya jika belum terlalu lama. Masuk ke bagian dalam, terliat slot RUIM di sisi kiri dan SIM di sebelah kanan. Hal ini sedikit menggambarkan bahwa “porsi” utama W139 ini adalah pada jaringan CDMA-nya, selain bisa dilihat dari nama serinya yang menggunakan kode “SCH”. Tak ada kesulitan yang saya temukan dalam mengeluarkan maupun memasukkan kartu ke dua slot-nya.

[tab: Fitur]

Fitur Dual ON tentu menjadi jualan utama yang harus dibedah terlebih dahulu. Kemampuan Dual ON-nya tergolong cukup baik,dengan ponsel mampu melakukan dan menerima panggilan secara bersamaan di kedua nomornya. Pengujian yang saya lakukan adalah, saya menghubungi nomor GSM menggunakan nomor GSM di ponsel, lalu menelepon nomor CDMA di ponsel dengan telepon rumah. Hasilnya, telepon dapat diterima dan saya bisa bicara dengan keduanya secara bergantian dengan memilih opsi “Pindah jaringan”.

Samsung juga sudah menyediakan pintasan untuk mengganti mana kartu yang akan dijadikan Default. Jika di seri-seri terdahulu, tombol tersebut terpisah di bagian sisi, kini digabungkan dengan tombol # yang untuk mengaksesnya dengan cara tekan dan tahan. Setelah itu, Anda bisa mengaktifkan atau menonaktifkan kartu dengan mudah, selain memilih nomor mana yang ingin dijadikan Default. Tiap-tiap nomor bisa dibedakan logo dan warna temanya, agar Anda dapat mudah mengetahui nomor mana yang menjadi default hanya dengan sekali lirik.

Fitur lainnya tergolong standar. Selain bekal konektivitas nirkabel jarak dekat Bluetooh, radio FM yang masih membutuhkan earphone sebagai antena, pemutar musik, 3 buah permainan (Sudoku, Cricket dan Carrom), manajer file, Organiser (Kalender, Memo, Jam Dunia, Kalkulator, Konverter) serta Twitter. Meski begitu, untuk keperluan personalisasi layar, Anda diberikan opsi Samsung Smart Home yang dapat menampilkan beberapa widget penting di layar beranda. Tak ketinggalan fungsi SOS Message yang dahulu diciptakan merespons keadaan darurat pascagempa dan tsunami Aceh beberapa tahun lalu.

Yang menarik adalah fitur Mobile Prayer yang terdapat dalam sub-menu Aplikasi. Tidak seperti di ponsel kebanyakan, fitur pengingat waktu doa ini tak hanya memuat opsi untuk mereka pemeluk agama Islam saja (pengingat waktu Sholat dengan opsi Azan penuh dan rekaman Doa), namun juga Doa Kristen (rekaman doa Halleluia), Hindu Prarthana (rekaman Mantra Gayatri) bahkan Sikh Gurbani (rekaman Mantra Mool).

Sedikit mengenai pemutar musik, Samsung akan memberi visualisasi skin yang berbeda-beda ketika berganti lagu dan saya tidak dapat menemukan cara mengaturnya. Ketika mengirimkan lagu berjudul “Lenka-trouble is a friend”, saya tidak dapat menambahkannya ke Daftar Putar meski berkas tersebut terbaca di folder Musik. Setelah mengurangi judulnya dengan menghilangkan “Lenka”, ternyata berkas tersebut langsung dapat ditambahkan ke daftar putar. Jadi, kalau Anda mengalami hal serupa, perhatikan saja nama atau judul lagunya agar jangan sampai kepanjangan. Soal keluaran suara dari speaker eksternal yang terletak di bagian belakang, lagu tak terdengar pecah meski diset penuh (level 14). Untuk kualitas suara dari handsfree bawaan tergolong standar dengan kekurangan di nada-nada rendah (bass).

[tab: Kesimpulan & Spesifikasi]

Samsung W139 terasa sangat pas jika Anda mencari ponsel kedua untuk nomor GSM dan CDMA Anda sekaligus, mengingat tak banyak fitur multimedia yang dibawanya. Di sisi lain, minimnya fitur tersebut menjadi nilai plus untuk mereka yang membutuhkan ponsel hanya untuk sekedar alat komunikasi dan musik (MP3 Player & radio). Apalagi daya tahan baterainya cukup lumayan, mampu bertahan sekitar 2 hingga 3 hari untuk pemakaian jarang (sebagai ponsel kedua/pendamping).

Menariknya, meski tidak saya temukan fitur internet browser, namun terdapat fitur Twitter di menu Komunikasi. Sayang, ketika saya coba, keluar jendela peringatan “Tidak mendukung untuk kartu UIM ini” (saya menggunakan esia-EVDO dan kartu 3). Di sisi lain, pemilihan ukuran dan warna font serta background pada W139 juga dirasa nyaman bagi orang tua yang memiliki masalah penglihatan seperti rabun dekat.

Plus:
(+) Desain menarik
(+) Dual ON CDMA-GSM termasuk jarang
(+) Harga murah untuk mereknya
(+) Samsung Smart Home, SOS Message
(+) Aplikasi Mobile Prayer
(+) UI nyaman bagi segala kalangan usia

Minus:
(-) Bluetooth terbatas
(-) Casing belakang mudah kotor
(-) Minus kamera & jack audio 3.5mm (kompetitor di kelasnya sudah menyertakan dua fitur ini)

Spesifikasi
Harga Rp 650,000
Jaringan GSM (900/1800MHz), CDMA (800MHz) [Dual ON]
Layar 2 inci TFT 262 ribu warna
Dimensi 114.9×47.8×14.1 mm
Kapasitas SMS 300
Radio FM + recording
Mp3 Player
Bluetooth (hanya sebagai media file sharing)
microSD (hingga 4GB)

About The Author

Memiliki pengalaman melaporkan dan mengulas produk telekomunikasi sejak 2009, pria bernama lengkap Rateka Winner Lee ini juga menggemari dunia videografi berkat latar pendidikannya di FFTV IKJ.

2 Responses

  1. budi

    mas, ukuran hurufnya bisa dibaca untuk orang 40 tahun ke atas?
    semua hp samsung ukuran font sms-nya bisa diubah?

    • Rtk Lee

      untuk huruf seperti yang saya tulis di artikel, bisa dengan jelas dibaca bagi orang tua terutama yang mengalami gangguan rabun dekat. saya mengetesnya sendiri dengan meminta orang tua saya untuk menilainya, apakah mereka merasa cukup nyaman atau tidak dengan fontasi yang ada pada ponsel ini.